Tahfidz KMI menjadi karakter pendidikan Pondok Tahfidz Modern Al-Aqsho Kudus dalam memadukan hafalan Al-Qur’an, ilmu keislaman, dan pendidikan modern.
Menjelang senja di Dukuh Pedak, Desa Klumpit, Kudus, lantunan ayat-ayat Al-Qur’an mengalun dari Pondok Tahfidz Modern Al-Aqsho. Di balik suasana yang khusyuk itu, pesantren ini menanamkan cita-cita besar: melahirkan generasi penghafal Al-Qur’an yang berilmu, berkarakter, dan berjiwa pemimpin. Gagasan tersebut berakar dari visi pendirinya, KH. Drs. Manshur, M.S.I., yang ingin memadukan tahfidz Al-Qur’an, tradisi keilmuan pesantren, dan pendidikan modern dalam satu sistem yang terpadu.
Jejak Perjalanan Sang Pendiri
Jejak perjalanan itu berawal dari Desa Klumpit, tempat Manshur lahir pada 1961 dan dibesarkan dalam lingkungan religius. Ayahnya, KH. Anwar Fauzi, membimbing masyarakat melalui mushala sederhana yang menjadi pusat kegiatan keagamaan warga. Sementara sang ibu, Hj. Siti Fathonah, menanamkan harapan agar putranya kelak menjadi pribadi yang alim dan bermanfaat bagi umat.
Semangat menuntut ilmu mengantarkannya menempuh pendidikan di Madrasah Tasywiqut Thullab Salafiyyah (TBS) Kudus, Pondok Modern Darussalam Gontor, Pondok Pesantren Dondong Mangkang Semarang, hingga melanjutkan studi di IAIN Semarang.
Bekal ilmu yang diperolehnya itu pun tidak berhenti di ruang belajar, tetapi juga diamalkan dengan mengabdikan diri di Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Menawan pada 2009–2016, sebelum melanjutkan khidmahnya di Pondok Tahfidz Nurul Qur’an MAN 1 Kudus sejak 2018.
Di tempat pengabdian terakhir itulah sebuah nasihat sederhana mengubah arah hidupnya. Dua gurunya di Gontor, Prof. Dr. KH. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A. dan Dr. KH. Ahmad Hidayatullah Zarkasyi, M.A., berpesan:
“Mulailah walau dari kandang ayam.”
Petuah itulah yang menguatkan tekadnya untuk merintis lembaga pendidikan sendiri dan menjadi titik awal lahirnya Pondok Tahfidz Modern Al-Aqsho Kudus pada 2019.
Dari Tanah Wakaf hingga Berkembang Menjadi Pesantren
Perjalanan Al-Aqsho dimulai dari tanah wakaf keluarga seluas 684 meter persegi. Seiring waktu, pesantren ini berkembang hingga memiliki lahan sekitar 1,5 hektare dan empat cabang, yakni:
- Pondok Tahfidz Modern Al-Aqsho Kudus KMI Putra
- Pondok Tahfidz Modern Al-Aqsho Kudus KMI Putri
- Pondok Tahfidz Modern Al-Aqsho Kudus Putra Dewasa, khusus lulusan Aliyah Takhosus Tahfidz Al-Qur’an
- Pondok Tahfidz Modern Al-Aqsho Kudus Putri Dewasa, khusus lulusan Aliyah Takhosus Tahfidz Al-Qur’an
Setelah KH. Drs. Manshur, M.S.I. wafat pada 2024, estafet kepemimpinan Al-Aqsho diteruskan oleh putra-putranya: KH. Choirul Anwar, S.Th.I., M.S., KH. Ahmad Afif Anwar, dan KH. Imaduddin Muhammad, S.Pd.
Berbekal pendidikan tahfidz, salafiyah, dan modern yang mereka tempuh, ketiganya melanjutkan visi sang ayah untuk melahirkan ulama hafidz yang teknokrat, berjiwa pemimpin, serta mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan tantangan zaman.
Tahfidz KMI: Identitas Pendidikan Al-Aqsho
Dalam wawancaranya dengan Majalah Gontor, Pimpinan Pondok Tahfidz Modern Al-Aqsho Kudus, KH. Choirul Anwar, S.Th.I., menuturkan bahwa Al-Aqsho lahir dari rasa tanggung jawab dan keterpanggilan untuk berkhidmat kepada umat. Selain itu, lembaga ini juga melanjutkan cita-cita pendirinya, KH. Drs. Manshur, M.S.I., dalam mencetak generasi penghafal Al-Qur’an yang berilmu, berjiwa pemimpin, dan mampu menjadi penggerak masyarakat.
Visi tersebut diwujudkan melalui model pendidikan yang memadukan tahfidz Al-Qur’an, tradisi pesantren salafiyah, dan sistem Kulliyatu-l-Mu’allimîn Al-Islâmiyyah (KMI).
Didukung para pendidik dari berbagai latar belakang pesantren serta alumni perguruan tinggi dalam dan luar negeri, Al-Aqsho mengembangkan model pendidikan yang memadukan kekuatan tradisi pesantren dengan sistem pendidikan modern.
Di pesantren ini, tahfidz Al-Qur’an berjalan beriringan dengan kajian kitab kuning dan kurikulum Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI). Kitab-kitab klasik seperti Safinatun Najah, Fathul Qarib, dan Fathul Mu’in menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk memperkuat pemahaman keislaman santri.
Perpaduan antara tahfidz, kajian turats, dan pendidikan modern itulah yang menjadi karakter khas Al-Aqsho. Melalui pendekatan tersebut, pesantren berupaya melahirkan generasi yang tidak hanya kuat dalam hafalan Al-Qur’an, tetapi juga memiliki keluasan wawasan, kematangan akhlak, serta jiwa kepemimpinan yang dibutuhkan untuk mengambil peran di tengah masyarakat dan menghadapi tantangan zaman.
“Tahfidz KMI”, Bukan Sekadar KMI dengan Program Tahfidz
KH. Choirul Anwar mengenang sebuah momen saat Prof. Dr. KH. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A. menghadiri Harlah ke-5 Pondok Tahfidz Modern Al-Aqsho Kudus.
Kala itu, beliau melontarkan pertanyaan yang sederhana namun mendasar:
“Al-Aqsho ini KMI yang bagaimana? KMI tahfidz atau KMI yang ada tahfidznya?”
Kami menjawab Al-Aqsho bukan keduanya, melainkan Tahfidz KMI.
Di Al-Aqsho, tahfidz Al-Qur’an tidak ditempatkan sebagai kegiatan tambahan atau pelengkap kurikulum, tetapi menjadi poros utama dalam pendidikan pesantren.
Dengan jawaban ini beliau mengatakan:
“Al-Aqsho sebagai pilot project pertama pondok alumni yang menjadikan tahfidz Al-Qur’an sebagai landasan dan acuan dalam menentukan kegiatan dan kurikulum pesantren.”
Sistem Tahfidz yang Terstruktur
Komitmen Al-Aqsho dalam mencetak generasi penghafal Al-Qur’an diwujudkan melalui sistem tahfidz yang terstruktur. Setiap santri ditargetkan menghafal minimal empat juz per tahun, dengan capaian yang dapat terus berkembang sesuai kemampuan masing-masing.
Pembinaan dilakukan melalui metode talaqqi, yaitu setoran hafalan secara langsung kepada ustaz pembimbing yang telah menghafal 30 juz Al-Qur’an. Metode ini memungkinkan pengawasan yang lebih intensif terhadap kualitas hafalan, tajwid, dan makharijul huruf.
Untuk menjaga mutu pembelajaran, setiap halaqah hanya terdiri dari sekitar 10–11 santri dengan satu pembimbing.
Sebelum memasuki program tahfidz, santri mengikuti tahap pra-tahfidz guna mengukur kemampuan membaca Al-Qur’an. Bagi yang belum memenuhi standar, tersedia pembinaan membaca menggunakan metode Yanbu’a atau Iqra.
Setelah dinyatakan siap, santri menjalani program tahfidz tiga kali sehari, yakni setelah Subuh, sore, dan setelah Magrib. Setiap sesi digunakan untuk menambah hafalan (ziyadah) sekaligus mengulang hafalan lama (murojaah). Dengan demikian, kualitas dan ketahanan hafalan dapat terjaga secara berkelanjutan.
Menyatukan Hafalan, Ilmu, dan Keterampilan
Meski berfokus pada tahfidz Al-Qur’an, Al-Aqsho tidak hanya mencetak penghafal Al-Qur’an. Para santri juga dibekali ilmu keagamaan, bahasa, dan sains melalui program MAFIKIB, serta beragam kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka, Taekwondo, olahraga, seni baca Al-Qur’an, dan kaligrafi.
Di pesantren ini, pendidikan berlangsung selama 24 jam. Pembentukan karakter dan kedisiplinan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, mulai dari shalat berjamaah, halaqah tahfidz, hingga pembelajaran malam.
Selain itu, tradisi membaca Asmaul Husna, kajian kitab akhlak, serta pendampingan intensif dari para guru menjadikan proses pendidikan tidak hanya berorientasi pada ilmu, tetapi juga pembentukan adab dan kepribadian santri.
Prestasi Santri Al-Aqsho
Model pendidikan yang memadukan tahfidz, akademik, dan pembinaan karakter tersebut mulai menunjukkan hasil. Santri Al-Aqsho berhasil meraih berbagai prestasi, baik di bidang akademik maupun nonakademik.
Mereka menjuarai lomba kepramukaan tingkat Kabupaten Kudus, mengikuti World Muslim Jamboree 100 Tahun Gontor, serta mengirimkan wakil ke Jambore Nasional. Di bidang akademik, santri Al-Aqsho juga menorehkan prestasi pada Olimpiade Bahasa Arab hingga tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa program tahfidz Al-Qur’an di Al-Aqsho berjalan seiring dengan pengembangan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan kepemimpinan.
Meski baru berdiri pada 2019, sejumlah alumni telah berhasil melanjutkan studi melalui jalur beasiswa tahfidz ke berbagai perguruan tinggi, termasuk program Kedokteran, Kedokteran Gigi, Psikologi, dan perguruan tinggi keislaman terkemuka.
Kepercayaan masyarakat terhadap Al-Aqsho juga terus meningkat. Melalui berbagai kegiatan keagamaan seperti shalat berjamaah, tahlil, pembacaan Barzanji, dan pengajian rutin, pesantren hadir sebagai bagian dari kehidupan sosial dan spiritual masyarakat sekitar.
Pendaftaran Santri Baru Tahun Ajaran 2027/2028
Seiring dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat, Pondok Tahfidz Modern Al-Aqsho Kudus kembali membuka pendaftaran santri baru Tahun Ajaran 2027/2028 yang insya Allah dimulai pada Oktober 2026.
Pada penerimaan kali ini, pesantren menyediakan kuota terbatas masing-masing 40 santri putra dan 40 santri putri untuk program Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI).
Sementara itu, Program Dewasa Takhosus Tahfidz bagi lulusan MA, SMA, maupun mahasiswa yang ingin fokus mendalami Al-Qur’an dibuka sepanjang tahun.
Informasi lebih lanjut mengenai pendaftaran, persyaratan, dan tahapan seleksi dapat diakses melalui website resmi Pondok Tahfidz Modern Al-Aqsho Kudus di:
Selain itu, informasi pendaftaran juga tersedia melalui akun media sosial resmi pondok.
Untuk program KMI putra, informasi tersedia melalui akun Instagram @ptm_alaqsho, sedangkan program KMI putri dapat diikuti melalui akun @ptm.spm.alaqshokudusputri.
Adapun informasi Program Dewasa Takhosus Tahfidz dapat diperoleh melalui akun @ptm.alaqshokudusputradewasa untuk putra dan @ptm.alaqshokudusputri untuk program putri.
[Muhammad Khaerul Muttaqien]



