
BELAJAR KEPEMIMPINAN ALA SANTRI
Patah tumbuh hilang berganti, sebelum patah telah tumbuh sebelum hilang telah berganti. Ini merupakan gambaran bagaimana pendidikan kepemimpinan di Pondok Tahfidz Modern Al-Aqsho Kudus berjalan dengan dinamika yang tidak pernah berhenti selama 24 jam.
Pagi ini tidak terasa pengurus Organisasi Santri Ma’had Al-Aqsho Kudus (OSMAQU) masa bakti 2025-2026 telah berada dibatas akhir kepengurusan, sebanyak 57 pengurus dengan 14 bagian melaporkan program kerja telaksana selama 1 tahun terakhir, lengkap dengan sirkulasi keuangan, evaluasi dan saran bagi pengurus selanjutnya.
Laporan dibacakan dihadapan seluruh santri dan dewan guru yang dibagi menjadi 2 sesi: sesi pertama pagi hari dilaksanakan selama kurang lebih 4 jam dan sesi kedua malam hari selama 2 jam dilanjutkan dengan pelantikan pengurus baru OSMAQU masa bakti 2026-2027 yang kali ini bertambah menjadi 16 bagian dengan tambahan bagian media publikasi dan bagian perpustakaan dengan total pengurus 63 santri.
OSMAQU sebagai Bagian dari Pendidikan Pesantren
Bagi Al-Aqsho keberadaan OSMAQU bukan semata sebagai pelengkap kegiatan, tapi ini merupakan kesatuan sistem dan kurikulum pesantren. Struktural yang diciptakan dalam organisasi ini tidak sekedar fungsi admnistratif tapi merupakan proses tarbiyah (pendidikan), ri’ayah (pembinaan), muraqobah (pengawasan) dan uswah (keteladanan) yang dilakukan terus menerus untuk menjaga nilai, tradisi dan keberlangsungan visi dan misi pesantren.
Dalam keorganisasian ini santri dilatih untuk mempunyai idealisme dalam mengukur dan memaksimalkan kebermanfaatanya sebagaimana pesan Rasulullah SAW:
“sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaknya dan yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”
Membangun Empat Kecerdasan Santri
Disinilah karakter santri akan dibentuk dengan melatih keempat kecerdasan yang dimiliki oleh manusia; pertama adalah IQ (Intelligence Quotient/Kecerdasan Intelektual) yaitu kemampuan kognitif, logika, numerasi dan memecahkan masalah. Kedua adalah EQ (Emotional Quotient/Kecerdasan Emosional): yaitu kemampuan untuk mengenali, mengelola, dan mengontrol emosi diri serta berempati pada orang lain. Ketiga SQ (Spiritual Quotient/Kecerdasan Spiritual) yaitu kemampuan untuk memahami makna hidup, nilai moral, dan prinsip ketuhanan. Dan yang keempat adalah AQ (Adversity Quotient/Kecerdasan Adversitas) yaitu kemampuan bertahan dan bangkit saat menghadapi kesulitan dan permasalahan dalam kehidupan. Keempatnya menjadi fondasi keseimbangan diri yang diperlukan dalam kepemimpinan.
An-Nidzam, At-Tandzim, dan Al-Intidzam
Selain itu, kegiatan berorganisasi ini telah mejadi mesin pengerak pendidikan, serta jantung yang berdenyut kuat dalam tiga filosofi kedisiplinan di Pondok Tahfidz Modern Al-Aqsho Kudus: an-nidzam (sistem), at-tandzim (pengaturan), dan al-intidzam (ketertiban). Tiga konsep ini bukan sekedar terminology administrative, akan tetapi menjadi fondasi kokoh untuk membangun generasi santri dengan karakter tangguh dimasa depan.
Kami ucapakan terimakasih kepada anak-anak ku santri kelas 6 KMI yang telah menyelesaikan masa khidah OSMAQU dan kami ucapkan selamat mengemban amanah bagi anak-anaku santri kelas 5 dan 4 KMI. Semoga niatan ananda semuanya dalam berkhidmah menjadi wasilah kesuksesan, keberkahan, manfaat di dunia dan di akhirat kelak.



