
Pagi ini (17/8), tepat pukul 07.30 santri Pondok Tahfidz Modern Al-Aqsho Kudus berbaris rapi di halaman timur pesantren dengan baris berbanjar ke utara dan selatan mengenakan seragam identitas batik pesantren. Tidak kalah necis dan gagah para petugas upacara mulai dari pasukan pengibar bendera, komandan upacara, pembaca Undang-Undang Dasar 1945 dengan mengenakan seragam kemeja putih bersih lengan panjang, celana hitam, syal merah putih yang terlilit dileher, serta peci hitam dengan atribut pin merah putih, dan tidak ketinggalan sarung tangan putih melengkapi kebanggaan para santri bahwa meraka akan menjadi pusat perhatian santri lainnya.
Tidak hanya santri, pimpinan pesantren dan dewan guru juga turut mengikuti pelaksanaan upacara memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesai yang ke -81 ini dengan seragam khas mengajar yaitu kemeja lengan panjang dan dasi. Terpilih sebagai komandan upacara ananda Dhiyaul Haq santri kelas 4 KMI asal Pati. Dan berdiri sebagai inspektur upacara KH. Choirul Anwar, S.Th.I,M.S.
Dua Pesan Utama
Ada 2 pesan utama yang disampaian oleh kyai Choirul dalam upacara kali ini, pertama adalah cara merawat keberagaman dan perbedaan kita dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan yang kedua adalah pesan muhasabah diri dalam memaknai hakekat kemerdekaan.
Merawat Keberagaman
Mengawali pesan pertama beliau mengutip surat al- Hujuraat ayat 13 yang berbunyi:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari golongan laki-laki dan golongan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.
Melalui ayat ini beliau mengingatkan santri bahwa berbedaan adalah sebuah keniscayaan yang tidak mungkin dihindari, dalam konteks Indonesia perbedaan dapat dilihat dari banyak suku, bahasa, tradisi yang ada di Negara Indonesia. Jika ditarik keberagaman ini kedalam kehidupan masyarakat pondok Al-Aqsho, maka bisa ditemui bahwa santri Al-Aqsho juga datang dari berbagai daerah, seperti Padang, Lampung, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, NTB dan tentunya dari Jawa sendiri, sehingga bisa dikatakan kebaragaman santri Al-Aqsho adalah sebuah miniatur keberagaman masyarakat Indonesia.
Untuk merawat keberagaman tersebut, sehingga menjadi energi positif kita dalam berbangsa dan bernegara tidak lain adalah dengan mempererat ukhuwah wathoniyyah yaitu persaudaraan dalam bernegara melalui sikap toleransi, empati, saling tolong menolong, bergotong royong. Sikap-sikap seperti ini penting disampaikan kepada para santri agar rasa persaudaraan dan saling memahami sebagai bentuk latihan mereka bermsyarakat kelak.
Memaknai Hakikat Kemerdekaan
Pesan kedua beliau dalam mengingatkan santri atas makna kemerdekaan dengan mengutip hadis Rasulullah SAW yang berbunyi:
رجعتم من الجهاد الاصغر الى الجهاد الأكبر فقيل وماجهاد الأكبر يارسول الله؟ فقال جهاد النفس
“Kalian semua pulang dari sebuah pertempuran kecil menuju pertempuran besar. Lalu ditanyakan kepada Rasulullah saw. Apakah pertempuran besar wahai Rasulullah? Rasul menjawab “jihad (memerangi) hawa nafsu.”
Sejarah mencatat bahwa kemerdekaan bangsa Indoneisa dibayar dengah darah, jiwa dan raga para pejuang, lalu apakah pantas menghormati perjuangan mereka dengan hanya seremonial semata. Tentunya itu terlalu receh jika kegiatan seremonial upacara dianggap sudah cukup untuk mengenang dan memuliakan para pejuang. Justru selesainya perlawanan terhadap penjajahan adalah awal dimulainya perjuangan melawan diri sendiri, melawan penjajahan dari bangsa sendiri.
Jika kita melihat dan membaca berita korupsi, koruptornya adalah orang Indonesia sendiri, jika kita melihat pembalakan liar dan pembabatan hutan, pelakunya adalah orang Indonesia juga. Inilah gambaran manusia yang dijiwanya masih terjajah oleh hawa nafsu, keegoisan, keakuan, ambisi pribadi yang telah merugikan bangsa Indonesia. Maka ada sebuah bertanyaan jenaka yang memuat pesan hikmah:
“sebutkan contoh dari kategori makhluk omnivora (pemakan segalanya)? Koruptor, karena tidak hanya memakan daging dan sayur, koruptor juga memakan uang rakyat, batu bara, aspal dan lain sebagainya”
ini tentu tidak sekedar jawaban lucu-lucuan tapi pesan yang mendalam kepada bangsa Indonesia agar kemerdekaan tidak hanya seremonial selama 30 menit.
Melalui pesan ini, kyai Choirul mengingatkan santri agar belajar mengendalikan hawa nafsu, beliau menariknya dalam kehidupan santri dengan ucapan:
“jika kamu masih kalah dengan ngantukmu, kalah dengan malasmu, kalah dengan egomu, kalah dengan HP mu jika dirumah, maka hakekatya kamu belum merdeka, masih dijajah oleh hawa nafsu”.
Doa untuk Bangsa dan Santri
Diakhir kalimat beliau memanjatkan agar bangsa Indonesia selalu diberikan perlindungan, persatuan, kemakmuran, kesejahteraan oleh Allah SWT, begitu juga doa supaya para santri diberikan istiqomah, kekuatan, kesabaran dalam menghafal Al-Quran, tholabul ilmi yang kelak mampu memimpin bangsa ini menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.




