Dari Pendopo Kabupaten Kudus, dua santri Pondok Tahfidz Modern Al-Aqsho bersiap melangkah menuju Jambore Nasional. Membawa nama pesantren dan daerah, perjalanan ini menjadi momentum untuk belajar, membangun persaudaraan, dan menempa karakter generasi muda.
KUDUS — Senin siang, 10 Agustus 2026, menjadi momentum istimewa bagi keluarga besar Pondok Tahfidz Modern Al-Aqsho Kudus. Bertempat di Pendopo Kabupaten Kudus, Pemerintah Kabupaten Kudus melepas dua santri Al-Aqsho, Jauhar Maknun (Jojo) dan Muhammad Rifa’ah Tahtawi (Rif’at), menuju Jambore Nasional 2026. Keduanya siap membawa nama baik pondok sekaligus menambah pengalaman melalui kegiatan tingkat nasional tersebut.

Dua santri yang akan mengikuti Jambore Nasional tersebut adalah Jauhar Maknun (Jojo) asal Tegal, dan Muhammad Rifa’ah Tahtawi (Rif’at) asal Semarang. Dalam perjalanan tersebut, keduanya tidak hanya memperoleh pengalaman baru, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kemandirian dan kedisiplinan. Selain itu, mereka juga dapat meningkatkan kemampuan bekerja sama, memperluas wawasan, serta membangun persaudaraan dengan generasi muda dari berbagai daerah di Indonesia. Dengan demikian, keikutsertaan dalam Jambore Nasional menjadi pengalaman berharga yang dapat mendukung pembentukan karakter Jojo dan Rif’at sebagai santri yang mandiri, tangguh, dan mampu beradaptasi.

Membawa Nama Al-Aqsho, Mengharumkan Nama Kudus
Keberangkatan Jauhar Maknun dan Muhammad Rifa’ah Tahtawi bukan sekadar perjalanan mengikuti sebuah kegiatan. Di balik langkah mereka, terdapat amanah untuk membawa nama baik pesantren dan daerah asal.
Sebagai santri Pondok Tahfidz Modern Al-Aqsho, keduanya diharapkan mampu menunjukkan karaktersantri yang disiplin, mandiri, berakhlak, mampu bekerja sama, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan sesama.
Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting ketika mereka bertemu dengan peserta dari berbagai daerah. Jambore Nasional menjadi ruang pembelajaran yang lebih luas—tempat para peserta dapat bertukarpengalaman, membangun persahabatan, belajar bekerja dalam tim, serta menghadapi berbagai tantangan bersama.
Bagi seorang santri, proses pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas maupun lingkungan pesantren. Selain itu, pengalaman di luar lingkungan pesantren juga memiliki peran penting dalam membentuk pribadi santri. Melalui berbagai pengalaman tersebut, santri dapat belajar beradaptasi, membangun kemandirian, serta meningkatkan kemampuan berinteraksi dengan masyarakat. Dengan demikian, pengalaman di luar pesantren dapat menjadi bekal berharga agar santri semakin tangguh, percaya diri, dan siap menghadapi kehidupan di tengah masyarakat.
Didukung Pemerintah Kabupaten Kudus
Kehadiran Bupati dan Wakil Bupati Kudus dalam momentum pelepasan menjadi bagian penting dari dukungan terhadap pengembangan karakter generasi muda.
Gerakan Pramuka memiliki peran dalam membentuk kedisiplinan, kemandirian, kepemimpinan, gotongroyong, dan kepedulian sosial. Selain itu, Pemerintah Kabupaten Kudus juga menegaskan bahwa Gerakan Pramuka perlu terus berkembang agar tetap relevan bagi generasi muda. Terlebih lagi, di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan, nilai-nilai kedisiplinan, kemandirian, kepemimpinan, serta kerja sama tetap memiliki peran penting. Oleh karena itu, kegiatan kepramukaan dapat menjadi salah satu sarana untuk membantu generasi muda tumbuh secara seimbang, baik dalam kemampuan teknologi maupun pembentukan karakter.
Pada Juni 2026, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris dikukuhkan sebagai Ketua Majelis Pembimbing
Cabang (Mabicab) Gerakan Pramuka Kabupaten Kudus, sementara Wakil Bupati Kudus Bellinda Birton menjadi Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kabupaten Kudus masa bakti 2026–2031.
Hal tersebut semakin memperkuat pentingnya kegiatan kepramukaan sebagai salah satu saranapembentukan karakter generasi muda.
Bagi Jojo dan Rif’at, kesempatan mengikuti Jambore Nasional diharapkan dapat menjadi pengalaman berharga yang kelak menjadi bekal dalam perjalanan mereka sebagai santri sekaligus generasi penerus bangsa.

Dua Santri, Satu Semangat, Membawa Nama Al-Aqsho
Ada dua nama yang hari ini melangkah dari Kudus menuju panggung nasional.
Jauhar Maknun (Jojo) dari Tegal.
Muhammad Rifa’ah Tahtawi (Rif’at) dari Semarang.

Keduanya membawa latar belakang daerah yang berbeda, tetapi memiliki satu semangat yang sama, menjadi bagian dari keluarga besar Pondok Tahfidz Modern Al-Aqsho dan memberikan yang terbaik dalam Jambore Nasional.
Keberangkatan mereka juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi para guru, pembina, orang tua, dan seluruh keluarga besar pondok.
Sebab, sebuah perjalanan tidak selalu diukur dari seberapa jauh tempat yang dituju. Terkadang, perjalanan menjadi berarti karena di dalamnya terdapat proses belajar, keberanian mencoba hal baru, persahabatan, dan pengalaman yang akan dikenang sepanjang kehidupan.
Dari Pendopo Kudus, Sebuah Perjalanan Dimulai
Pelepasan di Pendopo Kabupaten Kudus menjadi titik awal bagi kedua santri untuk menjalani pengalaman baru.
Mereka berangkat bukan hanya dengan perlengkapan kegiatan, tetapi juga membawa doa dan harapan dari keluarga besar Pondok Tahfidz Modern Al-Aqsho.
Dari pesantren mereka belajar.
Dari Kudus mereka melangkah.
Ke panggung nasional mereka membawa nama Al-Aqsho.
Semoga Jauhar Maknun dan Muhammad Rifa’ah Tahtawi senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, kelancaran,serta kemudahan dalam mengikuti seluruh rangkaian Jambore Nasional.
Semoga pengalaman yang mereka dapatkan mampu menjadi bekal untuk tumbuh sebagai santri yangmandiri, berkarakter, berprestasi, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Selamat berjuang, Jojo dan Rif’at.
Bawa nama baik Al-Aqsho. Jaga akhlak, bangun persaudaraan, serap pengalaman, dan pulang
membawa inspirasi.
Salam Pramuka!



