Kudus, Ahad 28 Desember 2025 — Pondok Tahfidz Modern (PTM) Al-Aqsho Kudus menggelar Haflah Khotmil Qur’an ke-2 sekaligus Peringatan Harlah ke-6, dihadiri oleh santri, wali santri, asatidz, tokoh masyarakat, masyayikh serta tamu undangan dari Kementerian Agama Kabupaten Kudus.
Acara berlangsung penuh khidmat dan haru, mencerminkan rasa syukur atas keberhasilan para santri dalam menjaga dan menghafalkan Kalamullah.
Pra-Acara: Rebana Al-Aqsho Dewasa Putri
Sebelum acara dimulai, hadirin disambut dengan penampilan Rebana Al-Aqsho Dewasa Putri yang membawakan sholawat dan puji-pujian.
Suasana semakin khusyuk ketika acara dibuka dengan tahlil dan doa bersama yang dipimpin oleh KH. Ahmad Syarifudin, mendoakan Almaghfurlah KH. Mansur, M.S.I., pendiri sekaligus pengasuh pertama Pondok Tahfidz Modern Al-Aqsho Kudus.
Susunan Acara: Dari Tilawah Hingga Penyerahan Syahadah
Tahlil & Doa oleh KH. Ahmad Syarifudin.
Tilawah Al-Qur’an oleh Muhammad Fadlul Basar dan Sholawat oleh Muhammad Huday.
Menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Hymne “Oh Pondokku” oleh seluruh hadirin.
Khotmil Qur’an oleh para khotimin dan khotimat, dilanjutkan penyerahan syahadah oleh pimpinan pondok, Ustadz H. Ahmad Afif Anwar, Al-Hafidz.
Sambutan-sambutan dari pimpinan, pejabat Kementerian Agama, dan perwakilan wali santri.
Pemutaran video dokumentasi pondok.
Mauidzoh Hasanah oleh KH. Nur Hamid.
Doa penutup oleh KH. Abdul Basith.
25 Santri Diwisuda, 4 di Antaranya Mujahadah 40 Hari
Sebanyak 25 santri diwisuda dalam Haflah Khotmil Qur’an tahun ini, terdiri atas 6 santri putra dan 19 santri putri.
Para santri mengikuti tes ujian sanad dan berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an bil hifdzi selama 7 hari berturut-turut.
Empat santri istimewa menjalani mujahadah khataman selama 40 hari berturut-turut, sebagai wujud keistiqamahan dan kecintaan mereka kepada Al-Qur’an.
Dalam sambutannya, pimpinan pondok KH. Choirul Anwar, S.Th.I., M.S. menyampaikan doa agar hafalan para santri tidak sekadar di lisan, namun menjadi pedoman hidup:
“Semoga apa yang telah dihafalkan menjadi hafalan yang menetap di dada, yang tercermin dalam akhlak dan perilaku sehari-hari, sehingga para santri menjadi Al-Qur’an yang berjalan,” ujarnya.
Apresiasi dari Kementerian Agama Kudus
Hadir pula Bapak Sony Wardana, S.Ag., M.Pd., perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Kudus, yang menyampaikan pesan penting kepada lembaga pendidikan keagamaan.
“Bagi pondok pesantren atau satuan pendidikan keagamaan yang ingin mengurus persetujuan gedung dan sertifikat layak fungsi, kini prosesnya gratis. Selain itu, Kemenag bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menyiapkan lembaga fasilitasi untuk santri berprestasi agar dapat melanjutkan kuliah di dalam maupun luar negeri,” terangnya.
Beliau menutup sambutan dengan ucapan selamat kepada para santri yang diwisuda serta apresiasi kepada para ustadz dan ustadzah atas dedikasi mereka dalam membina generasi Qur’ani.
Sambutan Wali Santri: Ilmu, Akhlak, dan Syukur
Perwakilan wali santri, Dr. H. Nur Abadi, S.Ag., M.Pd., menegaskan bahwa hafalan Al-Qur’an bukanlah akhir, tetapi awal dari perjalanan panjang menjaga dan mengamalkannya.
“Dalamilah ilmu, hayati dalam hati, dan amalkan dengan akhlakul karimah. Hari ini bukan akhir, tapi titik awal menjaga kelestarian Al-Qur’an,” ungkapnya.
Beliau juga berharap Pondok Tahfidz Modern Al-Aqsho terus berkembang dan melahirkan santri yang sholeh, cerdas, kreatif, inovatif, dan berdaya saing, serta mendoakan agar pendiri pondok, KH. Mansur, M.S.I., mendapatkan husnul khotimah.
Santri Khotimin : “Mimpi Harus Ditempuh dengan Kesungguhan dan Kesabaran”
Perwakilan khotimin-khotimat, Salmadani asal Jepara, menyampaikan rasa terima kasih mewakili teman-temannya kepada para guru dan orang tua.
“Di setiap langkah kami selalu ada tangan-tangan ikhlas yang membimbing dan mendoakan kami. KH. Mansur, Ibu Hj. Chomsah, dan ustadz-ustadzah bukan hanya pendidik, tapi penuntun jiwa dan motivator kami,” ujarnya haru.
Ia menuturkan tiga kalimat yang selalu menjadi penguat para santri:
Man jadda wa jada, man shobaro zhofiro, man syaroa alad darbi washola.
“Kami memahami bahwa mimpi harus ditempuh dengan kesungguhan, kesabaran, dan keistiqamahan. Ketika Allah berkehendak, yang sulit akan menjadi mudah dan yang mustahil menjadi mungkin,” lanjutnya.
Salmadani menutup sambutannya dengan doa dan ucapan terima kasih kepada kedua orang tua, memohon maaf atas segala kekhilafan, serta berharap Allah senantiasa memberikan kesehatan dan keberkahan umur bagi mereka.
Mauidzoh Hasanah: Jangan Berhenti Belajar
Dalam mauidzoh hasanahnya, KH. Nur Hamid berpesan kepada para hafidz dan hafidzah agar terus memperdalam kandungan Al-Qur’an.
“Setelah hafidz, jangan berhenti belajar. Pahami isi Al-Qur’an agar menjadi Al-Qori’ — orang yang alim dalam ilmu Al-Qur’an dan kandungannya. Semua ini adalah karunia Allah yang harus disyukuri dan dikembangkan,” tuturnya.
Acara ditutup dengan doa oleh KH. Abdul Basith yang memohon keberkahan dan keistiqamahan bagi seluruh santri dan keluarga besar Pondok Tahfidz Modern Al-Aqsho Kudus.
Video Dokumentasi :
Sebagai penutup, ditayangkan video dokumenter perjalanan Pondok Tahfidz Modern Al-Aqsho Kudus selama enam tahun terakhir, menampilkan kilas balik kegiatan santri, pengajaran tahfidz, dan program-program unggulan pondok.
Meneguhkan Komitmen: Mencetak Huffadz yang Teknokrat
Melalui kegiatan ini, Pondok Tahfidz Modern Al-Aqsho Kudus menegaskan kembali komitmennya dalam mewujudkan visi besar:
“Mencetak Huffadz yang Teknokrat” — generasi Qur’ani yang berilmu, berakhlak, dan siap berkontribusi bagi agama, bangsa, dan negara.
📹 Dokumentasi lengkap dapat disaksikan di kanal YouTube resmi:
👉 Al-Aqsho TV Media