Antara Anak yang Menghafal Al-Qur’an dan Orangtua yang Mencari Rizki

Menghafal Al-Qur’an adalah salah satu amal ibadah yang paling mulia. Seorang anak yang menekuni hafalan Al-Qur’an sedang menapaki jalan ilmu dan dzikir terbaik. Dari Abu Sa’id Al Khudri RA, dari Rasulullah SAW bersabda “Allah Yang Maha Mulia berfirman: Barangsiapa yang disibukkan oleh Al-Qur’an dari mengingat-Ku dan memohon kepada-Ku, maka Aku akan memberinya pahala yang lebih utama daripada apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta. Dan keutamaan kalam Allah atas seluruh perkataan adalah seperti keutamaan Allah atas seluruh makhluk-Nya.” (HR. Imam At Tirmidzi) Dengan hafalan, anak tidak hanya mengumpulkan pahala, tetapi juga menjaga kemurnian kalam Allah dalam dirinya.
Para ulama menyampaikan bahwa bembaca Al-Quran merupakan bentuk dzikir terbaik, karena setiap huruf yang dibaca didalamnya bernilai 10 kebaikan, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)
Hadis diatas banyak dibahas dalam kitab-kitab yang memfokuskan pada pembahasan yang berhubungan dengan fadhilah Al-Qur’an, seperti dalam kitab Syarh at Thibi ‘ala Misykatil Mashobih al Musamma bil Kasyif ‘an Haqoiqi sunan, karya Syeh Syarifuddin al Husain dan Kitab At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an karya Imam An-Nawawi. Khusus pada kitab yang terakhir disebutkan merupakan panduan komprehensif mengenai adab dan etika bagi pembaca, penghafal, dan pengajar Al-Qur’an.
Di sisi lain, orang tua yang bekerja mencari rezeki halal untuk membiayai pendidikan anaknya juga berada dalam ibadah. Nafkah yang diberikan dengan niat ikhlas menjadi amal yang besar. Rasulullah SAW menegaskan: “Sesungguhnya engkau tidaklah menafkahkan suatu nafkah yang engkau niatkan mencari wajah Allah, melainkan engkau akan diberi pahala karenanya, bahkan apa yang engkau letakkan di mulut istrimu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dengan demikian, kerja keras orang tua bukan sekadar usaha duniawi, melainkan ibadah yang bernilai akhirat.
Lebih dari itu, hubungan ini akan berbuah kemuliaan di akhirat. Hafalan anak akan menjadi mahkota bagi orang tua, sebagaimana hadis: “Barangsiapa membaca Al-Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka Allah akan memakaikan mahkota dari cahaya kepada kedua orang tuanya pada hari kiamat.” (HR. Ahmad). Dengan demikian, perjuangan orang tua di dunia akan berbalas dengan kemuliaan di akhirat melalui anaknya yang menghafal Al-Qur’an.
Anak yang menghafal Al-Qur’an dan orang tua yang mencari rezeki halal adalah dua jalan ibadah yang bertemu dalam satu tujuan: mencari ridha Allah. Sinergi ini melahirkan keluarga yang diberkahi di dunia dan dimuliakan di akhirat. Anak menjadi penjaga kalam Allah, orang tua menjadi penjaga rezeki halal, dan keduanya bersama-sama membangun rumah tangga yang penuh cahaya Al-Qur’an.
( KH. Choirul Anwar S.Th.I, M.S. )
About The Author
PTM AL-AQSHO KUDUS
Pondok Tahfidz Modern Al Aqsho Kudus
Pondok Tahfidz di Kudus menggabungkan metode Tahfidz dengan kurikulum KMI Gontor





