Isra’ Mi‘raj adalah sebuah peristiwa agung yang menjadi bukti cinta Allah سبحانه وتعالى kepada Rasul-Nya, Nabi Muhammad ﷺ. Perjalanan ini bukan sekadar ujian atau tantangan bagi Rasulullah ﷺ, juga bukan hanya pemberian Allah dalam bentuk penghiburan dan harapan agar beliau dimudahkan dalam menghadapi berbagai ujian hidup. Lebih dari itu, Isra’ Mi‘raj merupakan tuntutan syariat yang melahirkan kewajiban agung bagi umat Islam, yaitu kewajiban menunaikan shalat.
Shalat menjadi ibadah yang paling istimewa dibandingkan rukun Islam lainnya, karena kewajiban ini diberikan langsung oleh Allah سبحانه وتعالى tanpa melalui perantara apa pun. Shalat merupakan wujud nyata iman dan ketakwaan seorang hamba, serta menjadi amalan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat kelak (اول ما يحاسب به العبد يوم القيامة)
Peringatan Isra’ Mi‘raj termasuk dalam ranah ‘urf atau adat kebiasaan (عادات). Selama di dalamnya mengandung nilai-nilai positif, membahas ilmu, dan menguatkan keimanan, maka peringatan ini tidak hanya diperbolehkan, bahkan perlu untuk diadakan sebagai sarana edukasi dan pengingat bagi umat Islam.
Isra’ Mi‘raj terdiri dari dua peristiwa yang berbeda namun terjadi dalam satu rangkaian waktu. Isra’ adalah perjalanan malam Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Isra’ ayat 1. Sedangkan Mi‘raj adalah perjalanan Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha. Dalam perjalanan ini, Nabi Muhammad ﷺ ditemani oleh Malaikat Jibril عليه السلام dengan menunggangi Buraq.
Perjalanan Isra’ Mi‘raj bukanlah perjalanan ruhani semata, melainkan juga perjalanan jasmani. Peristiwa ini dianugerahkan oleh Allah سبحانه وتعالى sebagai bentuk tasliyah atau penghiburan bagi Nabi Muhammad ﷺ setelah terjadinya ‘Amul Huzn (tahun kesedihan). Perjalanan agung ini terjadi pada malam tanggal 27 Rajab.
Isra’ Mi‘raj bukan hanya perjalanan spiritual, tetapi juga perjalanan intelektual. Peristiwa ini bukan perjalanan yang mudah diterima oleh nalar manusia, bahkan banyak yang langsung mengingkarinya. Sebagian orang menganggapnya sebagai mimpi atau mengira Nabi Muhammad ﷺ telah kehilangan akal.
Dalam perjalanan Mi‘raj bersama Malaikat Jibril menuju Sidratul Muntaha, Nabi Muhammad ﷺ melewati lapisan-lapisan langit dan bertemu dengan beberapa nabi terdahulu. Melalui peristiwa ini, Allah سبحانه وتعالى tidak hanya memberikan penghiburan kepada Rasulullah ﷺ, tetapi juga menetapkan kewajiban bagi umatnya, yaitu shalat sebagai tiang agama (الصلاة عماد الدين).
Shalat merupakan kewajiban yang paling istimewa, paling awal dihisab pada hari kiamat (أول ما يُحاسَب يوم القيامة), dan satu-satunya ibadah yang diperintahkan langsung oleh Allah سبحانه وتعالى tanpa perantara. Oleh karena itu, shalat dipandang sebagai أمر عظيم, sebuah perkara yang sangat agung dan tidak boleh diremehkan oleh setiap Muslim.