Dalam belajar ilmu agama ada yang namanya Sanad, atau mata rantai keilmuan dari penulis kitab hingga sampai kepada kita pada masa saat ini, apalagi dalam menghafal Al-Quran dimana mata rantai (sanad) hafalannya harus sampai kepada Rasullah SAW.
Sanad merupakan sebuah legalitas seseorang mempunyai kompetensi untuk mengajar suatu ilmu keagamaan, begitu juga dalam Tahfidzul Qur’an dan ini merupakan ciri khas yang otentik milik umat Islam yang mana di pesantren masih dilestarikan khususnya di PTM. Al-Aqsho Kudus.
Setidaknya ada 4 jalur Sanad Tahfidz Al-Qur’an yang dimiliki oleh PTM. Al-Aqsho Kudus dari para kyai sepuh yang sudah tidak diragukan lagi kealiman beliau dalam ilmu Al-Qur’an, pertama dari jalur KH. Ulil Albab Arwani Alhafidz (PPTQ. Yanbu’ul Qur’an Kudus), Kedua, KH. Abdul Basit Alhafidz (PPTQ. Darul Furqon Kudus), yang ketiga dari jalur KH. Muhammad Husaini Alhafidz (PPTQ. Nurul Furqon Malang) dan yang keempat KH. Ahmad Syarifuddin Alhafidz (PPTQ Al Fudhola, Pakis Pati) Setiap dari beliau bertiga mempunyai ciri khas tersendiri, dan ciri-ciri khusus tersebut disatukan dalam sistem tahfidzul Qur’an di Al-Aqsho dengan beberapa tambahan oleh KH. Manshur selaku Pimpinan Pesantren, salah satu contohnya dengan adanya sema’an wetonan santri, atau dengan pelaksanaan ujian sanad 7 kali khataman 30 juz selama 7 hari dengan toleransi kesalahan maksimal 3 kali per juz nya, dan beberapa metode lain yang diterapkan guna mencetak para huffadz yang mutqin dalam hafalannya.
Ketiga mata rantai sanad Tahfidz Al-Qur’an yang ada di PTM. Al-Aqsho Kudus semuanya bersambung hingga Rasulullah SAW, dan ini sangat penting dalam pembelajaran Agama, apalagi Al-Qur’an, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim:
أَلْإِسْنَادُ مِنَ الدِّيْنِ وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ (شرح الصحيح مسلم للنواوي: ج ١، ص ٤٧)
Artinya: “Sanad adalah urusan agama. Kalau urusan isnad tidak diperhatikan, maka setiap orang bisa berbicara apa saja sekehendak hatinya.”Dalam sebuah hadist tentang keutamaan para pengahafal Al-Qur’an yang diriwayatkan oleh Muadz Al-Juhani Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:
مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَعَمِلَ بِمَا فِيهِ، أُلْبِسَ وَالِدَاهُ تَاجًا يَوْمَ الْقِيَامَةِضَوْءُهُ أَحْسَنُ مِنْ ضَوْءِ الشَّمْسِ فِي بُيُوتِ الدُّنْيَا لَوْ كَانَتْ فِيه
“Barangsiapa yang menghafal Al-Qur’an dan mengamalkan isinya, maka akan dipakaikan kepada kedua orang tuanya mahkota pada hari kiamat.Mahkota tersebut lebih terang dan lebih baik daripada cahaya matahari di rumah-rumah dunia seandainya cahaya tersebut ada padanya.”
Semoga anak, cucu dan dzuriyah kita semua diberikan fadhal oleh Allah SWT untuk menghafal Al-Quran, menjadi pemberi syafaat dan mahkota kemuliaan di akhirat kelak. Amin ya rabbal ‘alamin.
(KH. Choirul Anwar, S.Th.I, M.S.)