
Simpul Batin Al-Aqsho – Gontor – Tebu Ireng- Raudlatusshalihin dan Nurul Furqon Malang.
Pesantren bukanlah gedung asrama luas dengan fasilitasnya, pesantren bukan hanya pendidikan jasad. Pesantren, lebih dari sekadar lembaga pendidikan, adalah sebuah taman penempa jiwa. Meminjam nasehat kyai Hasan Abdullah Sahal (Gontor) kepada kami “Pesantren merupakan tempat mendidik kehidupan yang islami”. Di sanalah, di tengah kesederhanaan dan ketenangan, benih-benih keimanan disemai, akal diasah, dan akhlak dibentuk.
Dinding-dinding pesantren menjadi saksi bisu ribuan doa yang terucap, ribuan aksara Al-Qur’an yang dibaca, dan ribuan tawa serta air mata yang tumpah. Ia adalah miniatur masyarakat, tempat di mana nilai-nilai ketaatan, kemandirian, dan persaudaraan dipupuk dengan penuh kesungguhan. Setiap detik adalah pelajaran, setiap interaksi adalah madrasah, dan setiap kesulitan adalah tangga menuju kematangan, yang dalam falsafah pesantren kami sampaikan bahwa apa yang dilihat, yang didengar, yang dirasakan, dan yang dikerjakan adalah pendidikan.
Dalam silaturahim kepada Abah Yai Muhammad Husaini, Alhafidz beliau berpesan bahwa penyakit santri, apalagi menghafal Al-Qur’an adalah bosan, tapi jika menuruti penyakit selamanya tidak akan sembuh. Beliau lalu memberikan nasehat dengan bercerita bagaimana beliau merawat hafalan Al-Qur’an dengan segala ujiannya, sehingga Allah selalu memberikan jalan atas segala hajat beliau, dari memulai pesantren dengan 2 santri saja, hingga sekarang ada 6 cabang pesantren, “yakinlah dengan Qur’an mu pasti barokah” ucap beliau.
Perjalanan dengan 48 santri kelas 4 dan 5 KMI ke Gontor-Jombang- Malang tidak hanya sekedar mengisi wawasan pikiran, tapi juga mengisi kembali ruh perjuangan dengan sowan kepada para guru dan kyai kami. Gontor, Jombang, dan Malang. Tiga titik yang menyimpan seribu hikmah, tiga simpul yang merangkai jalinan sanad keilmuan dan perjuangan Al-Aqsho.
Para santri tak hanya ingin melihat bangunan-bangunan megah atau mendengar cerita-cerita lama. Lebih dari itu, para santri merasakan getaran perjuangan yang mengalir di setiap sudut pesantren, dari bilik-bilik asrama yang sederhana hingga mimbar-mimbar khotbah yang kokoh dan telah melahirkan para tokoh, serta memahami betapa gigihnya para pendahulu merintis jalan, menjaga obor ilmu, dan menegakkan syiar Islam, karena mereka para santri Al-Aqsho adalah syubbanul yaumi rijalul ghodi (pemuda hari ini, pemimpin masa depan).