
Salah satu pendidikan Kiai Manshur yang sangat Kami ingat adalah bagaimana beliau mendidik santri santrinya di dalam menghargai sesuatu yang ada di hadapan santri-santri. Contoh saja “NASI”.
Kami sangat mengingat ketika beliau mendidik santri santrinya dalam hal makan, beliau kalau makan sering bersama santri, kadang pernah nyuapin santrinya. Di saat kontrol makan, beliau selalu menginstall software ke santri santrinya “Bisa jadi keberkahan itu ada dibutir nasi terakhir yang kamu makan” ke dalam alam bawah sadar santri, supaya setiap makan itu dihabiskan.
Bahwa nasi yang kita terima itu sungguh sangat nikmat sekali, kita tidak perlu bekerja keras untuk mengolah tanah, menanam padi, menyirami padi, menyemprot hama, kepanasan di bawah terik matahari, menyelepkan padi, menanak nasi dan sebagainya.
Kita santri hanya butuh perjuangan untuk makan saja. Maka hargailah perjuangan Petani yang menanamnya, hargailah Ibu dapur yang memasaknya, hormatilah orangtua yang membiayai kita setiap bulannya, bagaimana cara menghargainya? Cukup dengan menghabiskan nasi yang engkau makan sampai habis ludes, jangan sampai tersisa, Bisa jadi keberkahan ada di butir nasi terakhir yang ada di dalam piringmu, jangan sampai keberkahan itu hilang, keberkahan harus di dapatkan.
Dengan keberkahan, akan menjadikan aktivitas kita menjadi kuat, enjoy, bermakna, di ridhoi Allah, dan dengan keberkahan maka akan menarik keberkahan lainnya.
Di luar sana masih sangat banyak orang yang membutuhkan nasi, mereka rela makan nasi yang sudah dibuang. Bagaimana dengan kita santri? Alhamdulillah kita diberikan kecukupan, dengan seperti itu, maka sudah seharusnya santri menghabiskan jatah yang telah diambilnya. Jangan sampai ada satu butir nasipun yang jatuh terbuang sia sia, hargai perjuangan mereka.
Sebagaimana konsep kebaikan akan menarik kebaikan lainnya, keburukan juga akan menarik keburukan lainnya, positif akan menarik positif lainnya, negatif akan menarik negatif lainnya. Maka satu keberkahan saja akan bisa mengundang dan menarik keberkahan lainnya.
Coba kita ilustrasikan sedikit saja konsep diatas. Dengan kita memakan nasi yang di dalamnya ada keberkahan, maka pembelajaran dikelas akan menjadi mudah diterima, hafalan untuk sore hari tiba tiba mudah, karena mudah nggak jadi kena hukuman, hafalan di malam hari jadi ringan, Ustadz Ridho dengan kita, Orang Tua Ridho dengan kita, Ibu nyai yang memasak langsung di dapur Ridho dengan kita, Petani juga Ridho dengan kita, Allah Ridho dengan kita. Insya Allah semua akan menjadi berkah dengan kita menjalankan satu keberkahan, karena ingat! “satu keberkahan akan mengundang keberkahan lainnya.”
KH. M. Rizqi Al Mubarok, M.Pd.
Pengasuh Ponpes Tahfidz Darul Falah Amsilati Jepara






