
Generasi Tangguh
Agama Islam memberikan perhatian kepada umat manusia dalam segala aspek kehidupan, baik kehidupan di dunia maupun kehidupan di akhirat. Salah satu hal penting yang perlu menjadi perhatian orang tua dalam rangka menyiapkan bekal di dunia dan di akhirat adalah pendidikan anak dan keturunan, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, yakni sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Pesan ketiga Baginda Rasulullah SAW dalam hadis tersebut adalah anak saleh yang berdoa untuk orang tuanya. Lalu, yang menjadi pertanyaan, apakah kesalehan anak akan datang tiba-tiba? Tentu saja tidak. Kesalehan seorang anak dibentuk melalui pendidikan dan lingkungan tempat ia berinteraksi. Karena itu, pendidikan anak menjadi investasi utama orang tua.
Mendidik anak dalam rangka membentuk pribadi yang saleh merupakan bagian dari mempersiapkan generasi yang tangguh pada masa yang akan datang. Jangan sampai setelah orang tua tiada, justru mereka meninggalkan generasi yang lemah dan tidak menjadi bagian dari amal yang pahalanya terus mengalir di akhirat. Allah memberikan peringatan akan perkara ini dalam Surah An-Nisa ayat 9 yang berbunyi:
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa: 9)
Lalu, bagaimana orang tua yang anaknya di pesantren dan ingin ikut mengambil bagian dalam mendidik putranya?
Memilihkan pendidikan anak di pesantren tidak berarti lepas tanggung jawab dalam mendidik anak. Justru, inilah bentuk ikhtiar orang tua dalam menyiapkan anak agar menjadi generasi yang tangguh: tangguh ilmunya, tangguh akhlaknya, tangguh imannya, dan tangguh mentalnya.
Pesan yang sering disampaikan oleh KH. Hasan Abdullah Sahal kepada wali santri, setidaknya ada lima perkara yang harus dilakukan orang tua dalam ikut serta mendidik putranya di pesantren. Pesan ini terangkum dalam kalimat “TITIP”. Apa maksudnya?
1. TEGA
Huruf T yang pertama adalah Tega. Orang tua harus tega meninggalkan anaknya di pondok. Biasanya, para ibu memiliki sindrom tidak tega. Yakinkan pada diri Anda bahwa di pesantren putra-putri Bapak/Ibu dididik, bukan dibuang; dididik, bukan dipenjara. Harus tega, karena pesantren adalah medan pendidikan dan perjuangan.
Yakinlah, keadaan anak-anak kita jauh lebih baik dibandingkan keadaan saat Nabi Ibrahim ‘alaihissalam meninggalkan putranya di gurun yang tandus, tanpa pepohonan, apalagi fasilitas MCK dan warteg.
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati.” (QS. Ibrahim: 37)
2. IKHLAS
Huruf I yang kedua adalah Ikhlas. Sebagaimana kita menyadari bahwa anak kita dididik dan diajar, kita juga harus ikhlas melihat putra-putri kita menjalani proses pendidikan itu: dilatih, ditempa, diurus, diberi tugas, diminta menghafal, dibatasi waktu tidurnya, dan sebagainya.
Yakinlah, ini adalah bagian dari kewajiban orang tua terhadap anaknya, yakni mendidik mereka. Insyaallah, hal ini pula yang akan menjadikan setiap usaha tersebut bernilai ibadah dan berpahala di sisi Allah SWT.
3. TAWAKAL
Huruf T yang ketiga adalah Tawakal. Setelah menetapkan hati untuk tega dan ikhlas, serahkan semuanya kepada Allah. Berdoalah! Karena pesantren bukan tukang sulap yang dapat mengubah santri begitu saja. Kita hanya berusaha, sedangkan Allah Azza wa Jalla yang mengabulkan doa. Doa orang tua untuk anaknya merupakan doa yang mustajab. Hal ini sebagaimana hadis Rasulullah SAW:
“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Ada tiga doa yang mustajab (dikabulkan) yang tidak ada keraguan padanya: doa orang yang dizalimi, doa seorang musafir (orang yang sedang bepergian), dan doa orang tua kepada anaknya.’”
4. IKHTIAR
Pendidikan membutuhkan perjuangan yang berkelanjutan. Orang tua tetap harus berikhtiar dengan memenuhi kebutuhan pendidikan anak, memberikan nafkah yang cukup, serta terus memberikan dukungan moral dan perhatian. Ikhtiar juga diwujudkan melalui komunikasi yang baik dengan pihak pesantren demi perkembangan anak.
5. PERCAYA
Yang terakhir adalah Percaya. Percayalah bahwa anak Bapak/Ibu dibina, betul-betul dibina. Semua yang mereka dapatkan di pondok adalah bagian dari proses pembinaan.
Kepercayaan merupakan fondasi penting dalam pendidikan pesantren. Orang tua perlu memiliki keyakinan bahwa para pengasuh, ustaz, dan pendidik menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab untuk membimbing santri menjadi generasi yang saleh, cerdas, disiplin, dan berakhlakul karimah.
Kepercayaan yang dibangun melalui komunikasi yang baik akan menciptakan sinergi antara keluarga dan pesantren dalam mendidik anak. Jadi, jangan sampai orang tua salah paham, salah bersikap, dan salah persepsi.
Penutup
Pada hakikatnya, menitipkan anak di pondok pesantren bukanlah kehilangan kebersamaan, melainkan menanam harapan besar untuk masa depan mereka. Setiap air mata yang jatuh saat perpisahan diharapkan akan berubah menjadi kebahagiaan ketika melihat anak tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berilmu, mandiri, dan bermanfaat bagi agama, bangsa, serta masyarakat.
زُرْ غِبًّا، تَزْدَدْ حُبًّا
“Bertemulah sesekali agar cinta makin berkembang.”
Semoga setiap orang tua yang sedang berjuang melepas putra-putrinya ke pondok pesantren diberikan kekuatan hati untuk TEGA, IKHLAS, TAWAKAL, terus BERIKHTIAR, dan selalu PERCAYA. Sebab, di balik sebuah perpisahan hari ini, insyaallah akan lahir generasi tangguh yang menjadi kebanggaan keluarga, agama, dan negeri pada masa depan.
Penulis
KH. Choirul Anwar, S.Th.I., M.S.
Pengasuh Pondok Tahfidz Modern Al-Aqsho Kudus
Pendaftaran Santri Baru
Tahun Ajaran 2027/2028
Pondok Tahfidz Modern Al-Aqsho Kudus



