
Kudus — Bimbingan dan nasihat penuh hikmah disampaikan oleh Almukarram Abah KH. Muhammad Chusaini Alhafidz, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Furqon Malang, kepada keluarga besar Pondok Tahfidz Modern (PTM) Al-Aqsho Kudus. Dalam nasihatnya, beliau menegaskan bahwa proses menghafal Al-Qur’an tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan ingatan semata.
Menurut Abah KH. Muhammad Chusaini Alhafidz, keberhasilan seorang santri dalam menghafal Al-Qur’an sangat ditentukan oleh kesiapan mental, adab kepada guru dan Al-Qur’an, serta keistiqomahan dalam menjalani proses. Beliau menekankan bahwa hafalan Al-Qur’an merupakan amanah besar yang membutuhkan kesungguhan lahir dan batin.
“Menghafal Al-Qur’an bukan sekadar soal kuatnya ingatan, tetapi tentang kesiapan mental, adab, dan istiqomah dalam proses.” tutur beliau penuh keteduhan.
Nasihat tersebut memberikan penguatan ruhiyah bagi para santri agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan dalam perjalanan tahfidz. Ini juga mengingatkan bahwa setiap kesulitan yang dihadapi dalam proses menghafal Al-Qur’an sejatinya merupakan bagian dari tarbiyah Allah untuk meninggikan derajat para penjaga Kalam-Nya. Jika prosesnya luar biasa, maka hasilnya pun, dengan izin Allah, akan luar biasa.
Selain itu, Abah KH. Muhammad Chusaini Alhafidz dikenal memiliki hubungan keilmuan yang erat dengan keluarga pendiri PTM Al-Aqsho Kudus. Beliau merupakan guru dari putra-putri almarhum Yai Manshur, yakni Ustadz Imaduddin Muhammad dan Ustadzah Itsna Shofil Fitroh, yang menimba ilmu dan mendapatkan pembinaan langsung di Pondok Pesantren Nurul Furqon Malang.
Hubungan guru dan murid tersebut menjadi mata rantai keberkahan keilmuan yang terus terjaga hingga kini. Nilai-nilai adab, kesabaran, dan keteguhan dalam menghafal Al-Qur’an yang diajarkan oleh Abah KH. Muhammad Chusaini Alhafidz turut mengalir dan menguatkan sistem pendidikan tahfidz di PTM Al-Aqsho Kudus.
Melalui nasihat ini, diharapkan para santri semakin memahami bahwa jalan tahfidz adalah perjalanan panjang yang menuntut kesungguhan, keikhlasan, dan adab, bukan sekadar target hafalan. Dengan fondasi tersebut, para santri diharapkan mampu menjadi hafidz dan hafidzah yang tidak hanya kuat hafalannya, tetapi juga kokoh akhlaknya serta istiqomah dalam menjaga Al-Qur’an sepanjang hayat.







