pondok tahfidz modern al aqsho kudus
Bagi seorang muslim, tentu selalu ingin bahwa apapun yang kita lakukan dan kita dapatkan dapat bernilai dan membawa kebarokahan. Orang tua mencari rizki yang barokah, berinfak agar barokah, taat kepada orang tua agar barokah, begitu juga dalam mencari ilmu yang barokah.
Kyai Manshur sering menyampaikan “barokah itu tidak bisa dilihat tapi bisa dirasakan”. Banyak ulama menyampaikan barokah adalah زيادة الخير (bertambahnya kebaikan), atau kalau di pesantren sering disebut جلب الخير ( sesuatu yang dapat membawa kebaikan).
Dalam tradisi pesantren, Keberkahan ilmu seorang santri salah satunya didapatkan dengan khidmat, bahkan sayyidina Ali bin Abi Tholib RA, seorang sahabat yang alim dan dipuji Rasulullah dengan kalimat أنا مدينة العلم و علي بابها “aku adalah kotanya ilmu dan Ali adalah gerbangnya”, beliau riwayatnya pernah menyampaikan:
أنا عبد من علمنى حرفا واحدا، إن شاء باع، وإن شاء استرق
“Saya adalah hamba sahaya dari orang yang telah mengajariku satu huruf. Terserah padanya, saya mau dijual, di merdekakan ataupun tetap menjadi hambanya.”
Dalam pendidikan era ini, nilai khidmat sudah mulai terkikis, pendidikan khidmat kepada Guru, kepada orang tua, kepada masyarakat dan umat mulai ditinggalkan, berubah menjadi pendidikan materialistik. Dan pesantren dengan tradisi khidmat sejatinya menjadi benteng terhadap perubahan (negatif) arus pendidikan saat ini yang cenderung materialistik, yang ruhnya telah hilang.
Sedikit cerita ketika yai Manshur masih berkhidmah mengasuh di Yanbu’ul Qur’an Menawan, bahwa ada seorang santri dari keluarga yang berada dan kakeknya ikut wakaf 1 hektar untuk pondok menawan kala itu, ketika melihat cucunya bersih-bersih mengambil sampah dan membawa tong sampah, beliau senang sekali, dengan menyampaikan “ini pendidikan yang betul”, dan saat ini cucu beliau melanjutkan studi di Amerika, dan hafal Al-Qur’an 30 juz.
Ketika saya masih khidmah di Pesantren Gontor, ada seorang ibu-ibu juru masak dapur guru yang putranya menjadi guru pondok bahkan sampai mendapat Doktor (S3) di Australia ketika ditanya kenapa tidak berhenti saja kerja di pondok karena sudah berkecukupan beliau jawab “kalau saya berhenti ya tidak bisa ngabdi (khidmah) di pondok tadz”
Ketika melihat anak-anak berkhidmah membersihkan kamar, Kelas, kamar mandi, lingkungan pesantren, atau bahkan sedang ikut membantu pembangunan pondok, hakikatnya mereka sedang berproses mengalahkan ego, belajar mandiri, kepedulian, ketanggapan yang endingnya adalah kebarokahan.
Di Al-Aqsho pun demikian tidak hanya santri, walisantri juga ada yang ikut berkhidmah, begitu pula dengan guru-guru dan pengasuh pondok, semuanya adalah khodimul ma’had. Semoga dengan khidmah ini kita semua diberikan rizki yang barokah, keluarga yang barokah, dzuriyah yang barokah, ilmu yang barokah, serta hidup yang barokah hingga akhir yang khusnul khotimah. Amin
( KH. Choirul Anwar, S.Th.I, M.S. )